Home / Uncategorized / Wanita Mesir Bertarif Rp 88 Juta | Mancanegara
Women chant anti-military council slogans and gesture as they protest against military council violations and virginity tests on females, outside the State Council court in Cairo, in this December 27, 2011 file picture.The placards read "Want the rights of my sister". Sexual harassment, high rates of female genital cutting and a surge in violence and Islamist feeling after the Arab Spring uprisings have made Egypt the worst country in the Arab world to be a woman, a poll of gender experts showed on November 12, 2013. Discriminatory laws and a spike in trafficking also contributed to Egypt's place at the bottom of a ranking of 22 Arab states, the Thomson Reuters Foundation survey found. To match poll story ARAB-WOMEN/ REUTERS/Amr Abdallah Dalsh (EGYPT - Tags: CIVIL UNREST POLITICS SOCIETY)

Wanita Mesir Bertarif Rp 88 Juta | Mancanegara

Hukum dalam kawin kontrak / musiman mampu dilansir otoritas Mesir dalam pekan lalu dimana hal ini mampu dikecam pihak aktivis yang sekaligus pembela hak para wanita. Dimana hukum itu mampu membolehkan wanita lokal asal Mesir yang sudah berusia 25 tahun dalam hal dinikahi turis asing bersama sebuah syarat jika sang pria saat itu mempunyai tabungan berkisar 50 ribu Pound Mesir dimana itu sekitar Rp 88 juta.

Uang dengan sebesar itu wajib didepositkan dengan nama calon istri ke Bank Nasional Mesir. Dimana media Timur Tengah yakni Saudi Gazette, di sebuah laporannya lalu, menulis jika banyak kasus menimpa wanita Mesir lalu bercerai di akhir liburan. Mengingat kebanyakan hanya sedang menjalani proses kawin kontrak.

UU mengenai pernikahan kala kontroversial itu sudah mampu diterbitkan sudah sangat lama. Tapi, dalam tahun ini, soal syarat uang kala dianggap jadi “mahar” mampu dinaikkan dari kisaran 25 ribu, lalu jadi 40 ribu serta kini mampu meningkat kebali jadi 50 ribu Pound Mesir. Masalah kenaikan jumlah uang dalam abar lain menyebutkan jika ini jalan untuk melindungi semua hak perempuan yang ada Mesir.

Aktivis yang bergerak dalam hak-hak perempuan bernama Nehad Abul Qomsan, dalam langkah mengecam soal hukum kawin kontrak serta menyebut hal ini sebagai sebuah “kerusakan”.

About admin