Home / Berita Umum / Beberapa Simpatisan Ahok Terasa Ma’ruf Merupakan Otak Di Balik Fatwa Penodaan Agama

Beberapa Simpatisan Ahok Terasa Ma’ruf Merupakan Otak Di Balik Fatwa Penodaan Agama

Beberapa Simpatisan Ahok Terasa Ma’ruf Merupakan Otak Di Balik Fatwa Penodaan Agama – Ajakan untuk mangkir pilih alias golput pada Pemilihan presiden 2019 mulai ramai diutarakan netizen di media sosial. Ajakan itu muncul dari beberapa pihak terpenting yang sampai kini mensupport Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang terasa sedih dengan sikap Joko Widodo yang pilih Ma’ruf Amin menjadi calon wakilnya pada Pemilihan presiden tahun kedepan.

Beberapa simpatisan Ahok terasa Ma’ruf merupakan otak dibalik fatwa penodaan agama yang pada akhirnya menyeret Ahok ke penjara serta Ma’ruf Amin dipandang turut terlibat dalam pembuahan beberapa ketentuan pemerintah sebagai alat intoleransi beragama. Jokowi juga dinilai telah menyalahi komitmennya masalah toleransi serta anti-politik jati diri.

Beberapa orang politik simpatisan Jokowi lalu bangun cerita anti-golput menjadi rumor tandingan. Ini seperti yang dikerjakan politkus PDIP Budiman Sudjatmiko di account twitter pribadinya.

Budiman berkicau “Hillary kalah oleh Trump dlm pemilihan presiden (menurut skema Electoral College) karena banyak simpatisan Sanders yg akan memutus Golput.. (Tolong pikirkan. Siapa yg diuntungkan bila beberapa simpatisan pak @jokowi golput?) ”

Sama dengan Budiman, Sekretaris Tubuh Kaderisasi PDIP Eva Kusuma Sundari juga menyampaikan hal sama waktu dihubungi Tirto. “Golput itu akan menggagalkan Jokowi untuk penuhi kemauan mereka serta values yang mereka angkat yakni nonpolitical identity, ” kata Eva, Sabtu sore (11/8/2018).

Seirama dengan Eva serta Budiman, Ketua Umum PSI Grace Natalie juga mengungkapkan saran sama. “Jangan saat tidak terakomodir, lantas golput, itu janganlah. Kami juga miliki masukan berlainan, tetapi kami masih dukung Jokowi, ” kata Grace dalam info tertulisnya.

Tidak hanya cerita anti-golput, beberapa orang politik simpatisan Jokowi ini dapat memberi pembelaan pada Ma’ruf Amin. Eva Kusuma Sundari menyampaikan penentuan Ma’ruf menurut dia untuk menjembatani serta merangkul semua kelompok serta untuk mengadang rumor politik jati diri.

Tidak hanya, Eva menuturkan, penunjukkan Ma’ruf merupakan usaha membuat politik yang beradab hingga penduduk tidak makin terpolarisasi. “Insya Allah, kedatangan Pak Ma’ruf akan menahan serangan-serangan berdimensi SARA hingga Pak Jokowi dapat konsentrasi untuk bekerja memajukan kesejahteraan, ” kata Eva.

Pembelaan sama disebutkan Wakil Sekjen Golkar Maman Abdurrahman. “Menjadi pemimpin di negeri ini itu tidak dapat cuma dari satu kelompok saja. Pak Jokowi serta Kiai Ma’ruf begitu merepresentasikan itu. Nasionalis-religius, ” kata Maman pada Tirto.

Sesaat berkaitan rumor intoleransi yang menimpa Ma’ruf, Wasekjen PKB Jazilul Fawaid memiliki pendapat penyematan rumor anti-toleransi untuk Kiai Ma’ruf adalah bentuk ketidakadilan. Ia beralasan, munculnya fatwa-fatwa MUI serta ketentuan pemerintah yang berbuah intoleransi tidak dipastikan serta ditetapkan oleh Ma’ruf saja.

Jazilul memberikan contoh fatwa penodaan agama pada Ahok yang menurut dia dibuat atas saran beberapa grup ormas serta ulama didalam MUI, termasuk juga perwakilan HTI. Ini karena sistem pemungutan fatwa dikerjakan lewat musyawarah.

“Kiai berupaya menjembatani serta menahan kemarahan banyak kelompok-kelompok Islam yang memandang Ahok penista agama. Tekanannya kuat. Tidak ada yang lihat proses itu, ” kata Jazilul.

Simak juga :
Team Sukses Ahok Sesalkan Masalah Ahok serta Ketua MUI
Ketum Golkar Ucap JK akan Menjadi Timses Jokowi-Maruf di Pemilihan presiden 2019
Cerita untuk Mendesak Kehilangan Suara
Narasi-narasi yang dibuat simpatisan Jokowi dinilai Usep S. Ahyar menjadi hal yang lumrah. Direktur Populi Centre ini menyampaikan penentuan Ma’ruf menjadi cawapres memang cukuplah rawan buat nada Jokowi di Pemilihan presiden 2019, terpenting karena golputnya beberapa simpatisan Ahok.

“Bagaimana juga simpatisan Ahok serta Jokowi itu berhimpitan. Simpatisan Ahok merupakan simpatisan Jokowi. Begitupun demikian sebaliknya, ” kata Usep pada Tirto.

Penilaian ini sesuai dengan hasil survey Instansi Survey serta Politik Indonesia pada 2017 lantas yang mengatakan, 54, 3 % simpatisan Ahok-Djarot di Pilgub DKI Jakarta 2017 adalah simpatisan Jokowi di Pemilihan presiden 2014.

“Lagi juga, simpatisan Ahok itu ada juga di semua Indonesia. Bukan sekedar di DKI Jakarta, ” kata Usep.

Bukti simpatisan Ahok menyebar di semua Indonesia, kata Usep, merupakan dari serangkaian solidaritas yang muncul di beberapa daerah selesai Ahok masuk penjara. “Itu buat saya kejadian. Bukti jika dia miliki simpatisan yang solid serta kuat dimana saja, ” kata Usep.

Berkaitan dengan pertempuran menantang Prabowo Subianto yang mempunyai simpatisan solid, Usep menyampaikan, kehilangan nada dari simpatisan Ahok akan begitu punya pengaruh buat Jokowi.

Untuk menghalangi kehilangan nada itu, menurut Usep, salah satunya langkah yang perlu dikerjakan merupakan Ma’ruf Amin mesti menuturkan ke simpatisan Ahok dengan cara langsung berkaitan proses pemberian fatwa yang menyeret Ahok ke penjara.

“Begitu juga dia mesti memberikan keyakinan jika masih tetap mewakili golongan milenial. Contohnya seperti Mahathir yang dapat mendekati anak muda, ” kata Usep.

About admin